DANUM PENYEMBUH LUKA

 Tidak semua luka tampak di tubuh manusia. Sebagian menganga di tanah, mengalir bersama sungai, dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Novel Danum
Penyembuh Luka
lahir dari kenyataan yang berlangsung di sepanjang aliran Sungai Kahayan dan Kapuas, Kalimantan Tengah. Aktivitas pertambangan rakyat yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan telah meninggalkan jejak yang tidak mudah dihapus: tanah-tanah yang rusak, kubangan-kubangan bekas galian, serta beban ekologis yang harus ditanggung oleh anak cucu di masa depan.

Melalui tokoh fiktif bernama Danum, novel ini menghadirkan kisah pergulatan batin, kesadaran, dan harapan. Danum adalah anak seorang penambang emas yang menggantungkan hidup pada tanah warisan leluhur. Dari perut bumi itu, emas mengalir dan menghadirkan kemakmuran bagi keluarganya. Namun sebuah peristiwa mengubah cara pandangnya. Danum mulai memahami bahwa kekayaan yang diambil dari bumi tidak selalu mampu menyelamatkan manusia dari kemalangan.

Di tengah berbagai duka yang menimpa keluarganya, Danum melihat ancaman yang lebih besar dan lebih jauh ke depan. Ia membayangkan anak cucunya kelak berdiri di atas tanah yang sama, tetapi tidak lagi menemukan ladang yang subur. Yang tersisa hanyalah kolam-kolam tandus berair keruh, saksi bisu dari kerakusan manusia terhadap alam.

Baginya, tanah yang subur mampu memberi kehidupan dari generasi ke generasi. Sebaliknya, emas hanya memberi penghidupan sementara bagi mereka yang menggali dan menjualnya. Kesadaran itulah yang mendorong Danum menempuh jalan yang berbeda. Berbekal ilmu dan tekad, ia berjuang memulihkan lahan-lahan rusak peninggalan ayahnya, agar warisan yang diterima anak cucunya kelak bukanlah kehancuran, melainkan harapan baru.

Danum Penyembuh Luka bukan sekadar novel tentang seorang anak dan keluarganya. Ini adalah kisah tentang hubungan manusia dengan alam, tentang tanggung jawab antargenerasi, dan tentang keberanian untuk memperbaiki kesalahan masa lalu demi masa depan yang lebih baik.

Ditulis oleh Sepmiwawalma, novel ini diterbitkan dalam format 15 x 21 cm dengan ketebalan sekitar 300 halaman.

Informasi dan pemesanan:
WA 0838 3275 8311

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAMUS DAYAK TUJUH BAHASA & Sejarah Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional

ORANG BARITO ABAD XIX - Narasi Tentang Penghuni Batang Barito Berdasarkan Catatan Para Penjelajah Mula-Mula

SECERCAH CAHAYA DI PUCUK HUTAN BORNEO