Buku ini terbit tahun 2019. Memaparkan kisah terbangunnya kampung Pahandut, yang selanjutnya terpilih sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah, dari narasi kehidupan seorang pemimpin Dayak Ngaju yang bernama Ngabe Anom Soekah.
Buku KAMUS DAYAK TUJUH BAHASA & Sejarah Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional salah satu karya literasi yang dihasilkan oleh dapur ICDN. Tujuh bahasa yang dimaksud oleh kamus ini adalah bahasa Indonesia, bahasa Dayak Ngaju, bahasa Dayak Serumpun Iban, bahasa Dayak Bakumpai, bahasa Dayak Banuaq, bahasa Dayak Lundayeh dan bahasa Inggris. KAMUS ini disusun agar pengguna memahami lima bahasa Dayak di Kalimantan, yakni; bahasa Dayak Lundayeh di Kalimantan Utara, bahasa Dayak Banuaq di Kalimantan Timur, bahasa Dayak Bakumpai di Kalimantan Selatan, bahasa Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah serta bahasa Dayak Serumpun Iban di Kalimantan Barat. Bahasa Dayak Serumpun Iban ini menyatukan Kalimantan Barat, Negara Bagian Serawak dan Negara Bagian Sabah. Apa yang dimaksud Dayak Serumpun Iban? Yaitu sub Dayak yang memiliki kemiripan bahasa dengan Iban seperti ; Mualang, Ketungau, Seberuang, Desa, Kantuk, dsb. Jadi, entri kata untuk bahasa serumpun Iban, selain bahasa Iban juga memasukan kosa...
ORANG BARITO ABAD XIX Buku ini menjabarkan apa? Dalam tulisan yang diterbitkan tahun 1853, Schwaner menuliskan bahwa penghuni sungai Barito dari muara sampai uncak adalah : Dayak Ngaju, Maanyan, Lawangan, Dusun, Siang-Murung, Punan. Sungai Barito adalah jantung Kalimantan pada masa lalu, karena Banjarmasin menjadi kota residen (ada dua kota residen di Kalimantan, yakni Banjarmasin dan Pontianak). Dari catatan Schwaner ini barangkali pembaca bertanya, dimanakah Banjar? Schwaner menulis saat Sultan Adam masih memimpin Banjar, jadi yang dimaksud dengan Banjar itu adalah kerajaan Banjar. Banjar belum menjadi etnis pada abad XIX – Mary Hawkins menuliskan bahwa Banjar menjadi identitas etnis tatkala bergabung dengan Indonesia pada abad XX. Bahwa orang Dayak Ngaju adalah penghuni mula-mula muara Barito ditegaskan oleh hasil penelitian Balai Bahasa Kalimantan Selatan (Zamzaroh 2020, 14 – 15; Siyok 2025, 27), ditegaskan oleh prosa Hikayat melalui penamaan ‘ Orang Negeri ’. Siapakah o...
Buku berjudul PERTANIAN DI TANAH DAYAK Dari Perladangan ke Agroforestry ini terdiri dari dua bagian penting. Bagian pertama tentang perladangan. Dari sejarah perladangan, sejarah padi, bagaimana padi menurut kebudayan Dayak, bagaimana ladang menurut sejarawan, apa saja produk ladang yang populer, bagaimana proses berladang sampai ke sejarah pelarangan berladang (larangan membakar ladang). Bagian kedua adalah tentang agroforestry. Bagaimana konsep agroforestry menurut para ahli. Apa tujuan agroforestry. Mengapa ladang adalah agroforestry tradisional yang bersahabat di hutan tropis. Apa saja agroforestry kompleks di kawasan orang Dayak. Mengapa agroforestry dipandang penting untuk menyalamatkan masa depan manusia dan iklim dunia. Ditulis oleh Prof. Dr. Ir. Bambang S. Lautt, M.Si. Bambang Lautt adalah Guru Besar Tetap di Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya dan Ketua Program Doktor Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Palangka Raya (2018 - 2024). Kakek-buyut Bambang ad...
Komentar
Posting Komentar