Buku KAMUS DAYAK TUJUH BAHASA & Sejarah Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional salah satu karya literasi yang dihasilkan oleh dapur ICDN. Tujuh bahasa yang dimaksud oleh kamus ini adalah bahasa Indonesia, bahasa Dayak Ngaju, bahasa Dayak Serumpun Iban, bahasa Dayak Bakumpai, bahasa Dayak Banuaq, bahasa Dayak Lundayeh dan bahasa Inggris. KAMUS ini disusun agar pengguna memahami lima bahasa Dayak di Kalimantan, yakni; bahasa Dayak Lundayeh di Kalimantan Utara, bahasa Dayak Banuaq di Kalimantan Timur, bahasa Dayak Bakumpai di Kalimantan Selatan, bahasa Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah serta bahasa Dayak Serumpun Iban di Kalimantan Barat. Bahasa Dayak Serumpun Iban ini menyatukan Kalimantan Barat, Negara Bagian Serawak dan Negara Bagian Sabah. Apa yang dimaksud Dayak Serumpun Iban? Yaitu sub Dayak yang memiliki kemiripan bahasa dengan Iban seperti ; Mualang, Ketungau, Seberuang, Desa, Kantuk, dsb. Jadi, entri kata untuk bahasa serumpun Iban, selain bahasa Iban juga memasukan kosa...
Buku ini berkisah tentang para martir Gereja Kalimantan Evangelis (GKE), yang ditulis oleh para pendeta dan sejarawan GKE: Hadi Saputra, Sudianto, Kinurung Maleh, Gunedi, dan Triotama . Para martir ini berkarya pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, menembus kerasnya hutan Kalimantan demi mewartakan Injil. Mereka tidak hanya menghadapi alam yang ekstrem, tetapi juga situasi politik yang keras serta budaya setempat yang pada masa itu belum sepenuhnya bersahabat. Kesetiaan pada panggilan penginjilan membuat mereka bertahan hingga akhirnya menjadi martir. Dari kemartiran itulah tumbuh benih-benih iman baru. Pengorbanan para penginjil ini melahirkan generasi penerus dan membentuk komunitas Kristen dari kalangan masyarakat Dayak, yang kemudian dikenal sebagai Gereja Kalimantan Evangelis . Lebih dari sekadar catatan sejarah gereja, buku ini menghadirkan kisah iman, pergulatan, dan lahirnya sebuah komunitas yang berakar kuat dalam sejarah Kalimantan dan tanah Borneo. Spesifikasi Buku Uk...
ORANG BARITO ABAD XIX Buku ini menjabarkan apa? Dalam tulisan yang diterbitkan tahun 1853, Schwaner menuliskan bahwa penghuni sungai Barito dari muara sampai uncak adalah : Dayak Ngaju, Maanyan, Lawangan, Dusun, Siang-Murung, Punan. Sungai Barito adalah jantung Kalimantan pada masa lalu, karena Banjarmasin menjadi kota residen (ada dua kota residen di Kalimantan, yakni Banjarmasin dan Pontianak). Dari catatan Schwaner ini barangkali pembaca bertanya, dimanakah Banjar? Schwaner menulis saat Sultan Adam masih memimpin Banjar, jadi yang dimaksud dengan Banjar itu adalah kerajaan Banjar. Banjar belum menjadi etnis pada abad XIX – Mary Hawkins menuliskan bahwa Banjar menjadi identitas etnis tatkala bergabung dengan Indonesia pada abad XX. Bahwa orang Dayak Ngaju adalah penghuni mula-mula muara Barito ditegaskan oleh hasil penelitian Balai Bahasa Kalimantan Selatan (Zamzaroh 2020, 14 – 15; Siyok 2025, 27), ditegaskan oleh prosa Hikayat melalui penamaan ‘ Orang Negeri ’. Siapakah o...
Komentar
Posting Komentar